Gubernur Bali, Wayan Koster, baru-baru ini menyampaikan kekhawatirannya mengenai potensi krisis pangan yang mengintai Pulau Dewata. Menyikapi ancaman ini, Koster mendorong Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali untuk mengambil langkah inovatif dan belajar dari keberhasilan sektor pertanian di Israel.
Dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan Penyusunan RKPD Semesta Berencana Provinsi Bali 2026, Koster menyoroti perlunya terobosan signifikan dalam meningkatkan produktivitas pertanian Bali, terutama dalam memanfaatkan lahan kering melalui penerapan teknologi modern. Ia menilai bahwa teknologi pertanian di Israel telah sangat maju, bahkan mampu memanfaatkan embun sebagai sumber air untuk tanaman.
Koster menyayangkan kinerja Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali yang dinilainya belum menunjukkan perkembangan yang memuaskan dalam mengatasi potensi krisis pangan ini. Ia menekankan bahwa Bali, yang dulunya dikenal dengan surplus beras yang melimpah, kini mengalami penurunan surplus yang cukup signifikan. Data menunjukkan surplus beras Bali pada tahun 2024 hanya mencapai 53 ribu ton, jauh menurun dibandingkan awal masa jabatannya yang mencapai lebih dari 100 ribu ton. Penurunan ini disebabkan oleh alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan pariwisata dan infrastruktur.
Menurut Koster, jika masalah alih fungsi lahan dan peningkatan produktivitas pangan tidak segera diatasi, Bali berpotensi mengalami ketergantungan pada impor pangan. Ia juga menyinggung isu mafia impor yang menurutnya mempersulit upaya swasembada pangan di Indonesia.
Oleh karena itu, Koster mendesak Dinas Pertanian untuk aktif mencari pengetahuan dan teknologi pertanian modern, salah satunya dengan belajar dari Israel yang berhasil mengembangkan pertanian maju meskipun memiliki keterbatasan lahan subur dan sumber air. Ia menekankan bahwa pemanfaatan teknologi, seperti pengolahan embun menjadi air tanaman, dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas pertanian di Bali.
Pernyataan Koster ini mendapat perhatian dari berbagai pihak. Beberapa kalangan menilai langkah belajar ke Israel sebagai ide yang menarik mengingat kemajuan teknologi pertanian negara tersebut. Namun, ada juga yang menyoroti pentingnya mempertimbangkan konteks dan kondisi pertanian lokal Bali dalam mengadopsi teknologi asing.
Pemerintah Provinsi Bali diharapkan segera menindaklanjuti arahan Gubernur Koster dengan melakukan kajian mendalam mengenai potensi kerja sama dan transfer teknologi pertanian dari Israel. Langkah-langkah konkret dan inovatif sangat dibutuhkan untuk mengamankan ketahanan pangan Bali di masa depan.
