Perayaan hari raya suci di Pulau Dewata selalu menjadi daya tarik yang memikat bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, terutama menyambut momentum Galungan & Kuningan yang jatuh pada bulan Maret 2026. Berdasarkan kalender Bali, hari raya Galungan akan dirayakan pada Rabu, 11 Maret 2026, yang melambangkan kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan). Selang sepuluh hari kemudian, umat Hindu akan merayakan hari raya Kuningan pada Sabtu, 21 Maret 2026. Persiapan perayaan ini biasanya sudah terlihat sejak beberapa hari sebelumnya, di mana masyarakat mulai memasang penjor di depan rumah masing-masing, menciptakan lorong bambu melengkung yang estetik di sepanjang jalan protokol seperti Jalan Raya Ubud, Jalan Gajah Mada Denpasar, hingga kawasan wisata Kuta.
Pemerintah Provinsi Bali bersama pihak kepolisian daerah telah menyiagakan ribuan personel gabungan yang terdiri dari Polri, TNI, dan Pecalang (petugas keamanan adat) untuk memastikan kelancaran arus lalu lintas selama prosesi upacara berlangsung. Kabid Humas Polda Bali, Kombes Pol Jansen Avitus, menyatakan bahwa pengamanan akan diperketat terutama di titik-titik rawan kemacetan dan pusat persembahyangan seperti Pura Besakih dan Pura Jagatnatha. Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan kemeriahan Galungan & Kuningan, sangat penting untuk memahami etika menonton agar tidak mengganggu kekhusyukan umat yang sedang beribadah. Salah satu etika utama adalah berpakaian sopan dan tertutup; sangat disarankan untuk mengenakan kain tradisional atau paling tidak pakaian yang menutupi bahu dan lutut saat berada di area suci atau saat menonton pawai.
Pawai penjor dan iring-iringan umat yang membawa sesajen (banten) biasanya dimulai sejak pagi hari pukul 06.00 WITA. Wisatawan diharapkan tidak menghalangi jalur iring-iringan hanya demi mengambil foto atau video. Menggunakan kamera dengan lensa zoom sangat dianjurkan agar Anda tetap bisa mengabadikan momen dari jarak yang cukup tanpa harus merangsek ke barisan upacara. Selain itu, penting untuk menjaga ketenangan dan tidak mengeluarkan suara keras saat mantra doa sedang dipanjatkan oleh pemangku adat. Momentum Galungan & Kuningan bukan sekadar festival visual, melainkan ritual sakral yang melibatkan hubungan mendalam antara manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama.
