Salah satu kerugian terbesar dari pernikahan temporer seperti mut’ah adalah terputusnya Ikatan Keluarga besar. Sifatnya yang sementara dan sifatnya rahasia menghilangkan jalinan silaturahmi antara dua keluarga yang seharusnya terjalin. Pernikahan yang sah bertujuan menyatukan dua keluarga besar, namun praktik ini justru mengabaikan peran keluarga, menjadikannya urusan privat yang penuh kerahasiaan.
Ikatan Keluarga dalam pernikahan yang sah menjadi benteng dukungan moral dan sosial bagi pasangan. Namun, sifatnya rahasia pada pernikahan temporer mencegah adanya silaturahmi yang sehat. Akibatnya, pasangan tidak mendapatkan dukungan dari keluarga besar, dan hubungan mereka menjadi rapuh serta mudah terputus tanpa ada pihak keluarga yang bisa memediasi atau menasihati.
Kehilangan silaturahmi antara keluarga besar merupakan dampak buruk dari sifatnya rahasia dan sementara dari pernikahan temporer. Ikatan Keluarga besar berperan penting dalam memberikan pertanggungjawaban dan tanggung jawab perwalian kepada anak yang lahir. Tanpa dukungan ini, pasangan, terutama wanita dan anak, menjadi rentan terhadap masalah sosial dan kesulitan ekonomi di masa depan.
Tujuan utama pernikahan suci adalah membentuk ikatan kekal yang menyatukan dua nasab secara sah dan terbuka. Pernikahan temporer gagal mewujudkan hal ini. Dengan sifatnya rahasia, silaturahmi yang merupakan anjuran kuat dalam ajaran Islam terabaikan. Ini mereduksi fungsi sosial pernikahan, hanya menyisakan pemenuhan nafsu sesaat tanpa tanggung jawab perwalian sejati.
Untuk menjaga Ikatan Keluarga dan silaturahmi, penting bagi masyarakat untuk menjauhi pernikahan temporer. Keterbukaan dan pengakuan dari keluarga besar adalah kunci untuk menjamin Sakralitas Pernikahan dan tujuan pernikahan yang langgeng. Praktik yang sifatnya rahasia hanya akan menimbulkan masalah di kemudian hari.
Menguatkan kembali nilai silaturahmi dalam setiap ikatan pernikahan adalah langkah penting. Pernikahan harus dilihat sebagai penyatuan dua keluarga, bukan sekadar kontrak individu yang sifatnya rahasia. Dengan demikian, Ikatan Keluarga besar dapat berperan aktif dalam menjamin Kesejahteraan Anak dan harga diri wanita.
Setiap pernikahan harus didasarkan pada ikatan kekal yang terbuka untuk umum, yang mendorong silaturahmi dan menciptakan Ikatan Keluarga yang solid. Menolak pernikahan temporer berarti memilih pertanggungjawaban dan tanggung jawab perwalian yang jelas demi masa depan anak.
Oleh karena itu, menjaga Ikatan Keluarga dari praktik yang sifatnya rahasia adalah upaya kolektif. Menghidupkan kembali silaturahmi sebagai bagian integral dari pernikahan akan memastikan bahwa pernikahan temporer yang merusak tidak lagi memiliki tempat dalam masyarakat bermartabat.
