Selain perayaan akbar di Borobudur, umat Buddha di berbagai daerah di Indonesia juga memperingati Waisak dengan berkunjung dan beribadah di vihara atau kelenteng di lingkungan mereka masing-masing. Ini adalah bentuk pengamalan Dharma yang lebih personal dan dekat dengan komunitas. Bagi sebagian besar, perayaan lokal inilah yang menjadi inti dari mereka setiap tahun, mencerminkan keragaman praktik keagamaan.
Di vihara-vihara kecil maupun besar, berkumpul untuk melakukan puja bakti (sembahyang) bersama. Mereka memanjatkan doa, membacakan paritta (doa-doa suci), dan melakukan persembahan kepada patung Buddha. Suasana di vihara selalu terasa khusyuk dan damai, memberikan ruang bagi umat Buddha untuk merenung dan memperkuat keyakinan spiritual mereka, sebuah kebersamaan yang tulus.
Beberapa vihara dan kelenteng juga mengadakan sesi meditasi yang lebih intensif selama Waisak. Umat Buddha duduk dalam keheningan, memusatkan pikiran untuk mencapai ketenangan batin dan pencerahan. Ini adalah kesempatan untuk memperdalam praktik meditasi mereka, melepaskan diri dari kekotoran batin, dan menyelaraskan diri dengan ajaran Buddha tentang mindfulness dan kebijaksanaan.
Selain ritual keagamaan, banyak vihara juga mengadakan kegiatan sosial selama Waisak. Ini bisa berupa tradisi pindapata atau pemberian dana makanan kepada para biksu, donor darah, pembagian sembako kepada yang membutuhkan, atau kunjungan ke panti asuhan. Kegiatan ini menegaskan bahwa ajaran Buddha tidak hanya tentang spiritualitas individu, tetapi juga tentang kasih sayang universal dan kepedulian sosial.
Keberadaan vihara dan kelenteng di berbagai daerah sangat penting bagi umat Buddha. Mereka berfungsi sebagai pusat komunitas, tempat belajar Dharma, dan wadah untuk mempererat tali persaudaraan antarumat. Selama Waisak, tempat-tempat ini menjadi lebih hidup, dipenuhi oleh umat Buddha yang datang untuk beribadah dan merayakan hari suci mereka.
Peringatan Waisak di tingkat lokal ini juga menunjukkan adaptasi budaya. Meskipun inti ajaran Buddha tetap sama, cara perayaannya bisa bervariasi sesuai dengan tradisi dan kearifan lokal. Ini memperkaya khazanah budaya Indonesia, menunjukkan bagaimana agama dapat berinteraksi harmonis dengan budaya setempat, sebuah praktik yang sudah mengakar.
Bagi umat Buddha yang tidak bisa melakukan perjalanan ke Borobudur, vihara atau kelenteng di lingkungan terdekat menjadi tempat utama untuk merayakan Waisak. Ini memastikan bahwa semua umat memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam perayaan penting ini, terlepas dari lokasi geografis mereka, menumbuhkan rasa kebersamaan.
